Dialog Radio Komisi B Membahas tentang Penataan dan Penertiban Pasar Tradisional

Setdprd.slemankab.go.id – 31/12/2018 – Dialog Radio interkatif di ruang Komisi B DPRD Kabupaten Sleman membahas tentang Penataan dan Penertiban Pasar Tradisional dengan Narasumber Nur Hidayat, A.M.d (Ketua Komisi B DPRD Sleman), dan Yani Fathu Rahman S. Pd.i (Anggota Komisi B DPRD Sleman).

Pembangunan di Kabupaten Sleman sangat cepat dan semua anggota DPRD Kabupaten melihatnya sebagai fenomena luar biasa. Pembangunan di berbagai bidang sangat cepat dan terdapat pasar tradisional dan pasar modern begitu tumbuh cepat. Terdapat 41 pasar tradisional dengan tingkatan dan segmentasi yang berbeda-beda. Pasar Prambanan ada revitalisasi fisik dan menyusul 5 pasar tradisional selanjutnya yang akan direvitalisasi. Pasar Prambanan diresmikan pada mei 2018 lalu. Dengan revitalisasi pasar tersebut dapat di jadikan icon pasar  kota Sleman. Pasar tradisional dapat dijadikan sekolah atau edukasi tentang pasar, pedagang seperti  bangunan fisik dengan khas bangunan, pengelolaan keuangan dan mental atau meiinsite yang perlu diubah.

Berkaitan dengan ketugasan dewan funsi DPRD yaitu memantau dan meningkatkan jalannya kegiatan di pasar Prambanan. Sidak dan wawancara langsung dengan pedagang / warga, dari berbagai segi kesulitan relokasi dan semacamnya. Program penataan seperti pedagang yang berada di luar perlu dilakukan penataan agar tidak tercipta kecemburuan dengan pedagang yang menyewa kios atau tempat di pasar tersebut. Pemda Sleman mengapresiasi dan mendukung program berbelanja hemat dengan belanja di pasar tradisional. Disperindag sebagai dinas sebagai monitoring kegiatan pasar tradisional dan juga pasar modern harus terjadi keseimbangan koordinasi.

Pada tahun 2018 terdapat 3 pasar di Prambanan, Gentan dan Sleman yang sudah melakukan revitalisasi. Diharapkan untuk tahun 2019 revitalisasi pasar di Pakem, Tempel, Godean dan Gamping. Pasar tradisional yang sudah menjadi milik rakyat sudah semestinya milik rakyat dan tidak memberatkan rakyat. Dari segi kualitas barang memang terdapat kekurangan seperti keadaan barang yang sudah tidak segar. Hal ini terjadi karena di pasar tersebut terdapat banyak sekali tenaga manusia dengan segala produknya. Sebagian masyarakat beranggapan membeli produk ke pasar modern karena kualitas barang lebih segar. Ketua Komisi B Nur Hidayat, A.Md menyatakan bahwa hal tersebut terkait segmentasi pasar. Terlepas dari itu masyarakat dapat menemukan pedagang pasar Prambanan dengan waktu pelayanan selama 24 jam mulai beroperasi dari jam 11 malam dan dengan kualitas produk penjualan selalu segar.

Pemerintah DPRD Sleman melalui Perda menerapkan batas minimal 1000 meter untuk tiap jarak pasar modern. Hal ini diharapkan tidak akan menutup eksistensi  pasar tradisional. Terdapat 3 jenis pasar yaitu pasar pemda, pasar desa dan pasar instansi seperti di bibis dan sembuhan dan berfokus ke arah pemerintah kabupaten Sleman agar dilakukan berbaikan penanganan sesuai kebijakan dan perda. Sebagai perbaikan layanan pasar tradisional  Ketua komisi B berharap masukan warga dan akan diteruskan ke dinas terkait. Diimbangi dengan edukasi masyarakat tanpa adanya dukungan masyarakat guna mendukung program maka pasar tradisional tidak akan berjalan dengan baik. Anggota komisi B Yani Fathu Rahman, S.Pd.I berpendapat bahwa pasar tradisional mempunyai pasar tersendiri. Dengan dukungan masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional untuk menjadikan pasar tradisional sebagai pasar rakyat, hemat dan murah.

Satu tanggapan untuk “Dialog Radio Komisi B Membahas tentang Penataan dan Penertiban Pasar Tradisional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *