Komisi B dukung Ekonomi Kerakyatan melalui Revitalisasi Pasar Tradisional

Setdprd-slemankab.go.id – Komisi B DPRD Kabupaten Sleman fungsi Koperasi dan Usaha Kecil Menengah perdagangan. Rombongan yang Komisi B dipimpin oleh ketua Komisi B Nurhidayat, A.Md. wakil ketua Banudoyo Manggolo, S.Kom., Sekretaris Rahayu Widi Cahyani, S.H. M.M., dan anggota RB Ramelan, S.E., B. Arimurti, S.E., H. Ardi, S.Ag., M.MPAR., M.M., Dara Ayu Suharto, S.H., dan Sukamto, S.H. rombongan komisi B mengunjungi Pasar Kejambon Sindumartani, Ngemplak dan dilanjutkan ke pasar Jangkang, Widodomartani, Ngemplak(15/1).

Pasar Kejambon di tahun 2019 mendapat bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 1,1 Milyar, dana alokasi tersebut digunakan untuk revitalisasi pasar di bagian ruang kantor, kanopi, hanggar (timur pasar) pembuatan talud sungai dan lainnya. Untuk hanggar masih dipakai sementara sebagai pasar hewan, rencananya akan ditata saat ini pihak pasar masih mensosialisasikan untuk penataan pasar terkait parkir serta letak pasar hewan agar tidak tercampur. 40% pedagang dan pembeli merupakan masyarakat berasal dari Kabupaten Klaten, karena wilayah pasar kejambon tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Klaten.

Kepala UPT pelayanan Pasar wilayah III Setyo mengatakan rencana kedepan pasar kejambon memliki wisata kuliner yang buka malam hari, “kita sudah mengumpulkan para pedagang yang siap meramaikan pasar kuliner malam hari sehingga sarana dan prasarana segera di siapkan mungkin terkait penerangan, keamanan, kebersihan dan lahan parkir segera di siapkan”, tambahnya.

Selanjutnya Rombongan Komisi B mengunjungi Pasar Jangkang, Pasar jangkang belum mempunyai papan nama untuk identitas pasar tersebut, sehingga komisi B mendorong dinas terkait untuk segera melengkapi identitas pasar tersebut. DAK yang akan digunakan untuk merevitalisasi pasar meliputi los, masjid, MCK dan kantong sampah.

Ketua Paguyuban Pasar Jangkang Pak Rumit mengatakan bahwa saat ini los no 3 dari utara sangat panas karena atap menggunakan fiber transparan dan atap terlalu pendek. Terkait retribusi online pedagang kebratan, “Pasar ini kan pasar tradisional kalau retribusi online apaka bisa di sebut pasar tradisional? Karena pasar menjadi tradisional menjadi special adalah adanya komunikasi langsung antara pedagang – penjual maupun ke penglola pasar, makanya unsure komunikasi antara penjual pedagang dan pengelola harus di pertahankan”, tambahnya.

©Humas 2020, (afp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *